Nama KH. Taufiqul Hakim
Tempat/Tanggal Lahir Jepara, 14 juni 1975
Alamat Sidorejo Rt 03/12 Bangsri Jepara Jawa Tengah
Ayah H. Supar
Ibu Hj. Aminah
Saudara 1. H. Slamet (buruh)
2. Sukadi (penjahit)
3. H. Jayadi (tukang kayu)
4. Ngatrinah (bakul)
5. Hj. Turinah (wiraswasta)
6. H Rabani (tukang kayu)
7. KH. Taufiqul hakim
Pendidikan 1. TK Lestari Bangsri (1981)
2. SDN 3/7 Bangsri (1987)
3. MTs. Wahid Hasyim Bangsri (1990)
4. Diniyah Wustho Mathali’ul Falah (PIM Kajen Pati) (1992)
5. Aliyah Mathali’ul Falah (1995)
6. Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten Jateng (100 hari)
Istri Hj. Faizatul Mahsunah
Putra-Putri 1. Muhammad Rizqi Al-Mubarok 29 September 1998
2. Akmila Azka Ni’ma 7 Februari 2006
3. Muhammad Dzikri Arrohman 5 Juni 2010

 

KH. Taufiqul Hakim saat mempimpin demonstrasi wisuda Amtsilati
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati

KH. Taufiqul Hakim lahir di Jepara, 14 Juni 1975 dari pasangan suami-istri yang bernama (Alm.) H. Supar dan (Alm.) Hj. Aminah. Keduanya berprofesi sebagai petani dan penjual minyak klentik. Beliau adalah putra terakhir dari 7 bersaudara.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dari TK Lestari Bangsri, setelah itu melanjutkan ke jenjang Sekolah Dasar 3/7 Bangsri dan MTS Wahid Hasyim Bangsri, sembari belajar membaca al-qur’an kepada Kyai Kholil Bangsri. Sedangkan untuk pendidikan keagamaan, beliau memulainya di PIM (Perguruan Islam Matholi’ul Falah) Kajen, dibawah asuhan KH. Abdullah Salam dan KH. M. A. Sahal Mahfudz. Keinginan beliau ingin belajar di Pesantren tertanam semenjak beliau duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5, saat ada pengajian yang di sampaikan oleh KH. Masruri (Kakak Bupati Bpk. KH. Marzuqi ). Karena KH. Masruri alumnus PIM Kajen, beliau betekad untuk belajar di sana. Tidak cukup dengan pendidikan sya’riat saja, beliau juga mendalami dan menyelami Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah Kholidiyyah dibawa asuhan langsung KH. Salman Dahlawi. Dan berhasil menempuh dengan tempo waktu 100 hari, yang mana normalnya harus ditempuh dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun.

Setelah beliau menyelesaikan seluruh pendidikannya, beliau pun menikah pada tahun 1997 dengan Hj. Faizatul Mahsunah Al-Hafidzoh. Pernikahan ini melahirkan putra-putri, yaitu: H. Muhammad Rizqi Al-Mubarok (1998), Akmila Azka Ni’mah (2006), dan Muhammad Dzikri Ar- Rohman (2010). Putra pertama beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 10 tahun, putri beliau juga menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 9 tahun, sedangkan putra yang terakhir baru menyelesaikan hafalan 10 juz pada usia 8 tahun.

Keluarga Pengasuh Pondok PEsantren Darul Falah Amtsilati
Keluarga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati

Kesuksesan KH. Taufiqul Hakim dalam mendirikan dan mengembangkan Pesantren tidak lepas dari karakter yang dimiliki beliau antara lain:

1. ISTIQOMAH
KH. Taufiqul Hakim adalah sosok yang istiqomah. Sifat istiqomah beliau tertanam sejak kecil, bahkan saat beliau masih duduk di kelas 1 Diniyyah Wustha di PIM Kajen, beliau selalu mengistiqomahkan melaksanakan sholat muthlaq 100 rakaat.

2. DISIPLIN
Disiplin adalah hal yang harus dimiliki oleh orang-orang yang sukses. KH. Taufiqul Hakim selalu menggunakan waktunya dengan sangat disiplin, beliau tidak pernah menggunakan waktunya dengan hal yang sia-sia. Kedisiplinan beliau terbentuk dari didikan KH. M. A. Sahal Mahfudz yang dikenal disiplin dalam mengatur waktu.

3. MINAT BACA YANG TINGGI
KH.Taufiqul Hakim adalah sosok pembaca ulung sejak kecil. Minat baca yang tinggi membuat beliau melampaui bacaan pada masanya. Ketika kelas 4 SD, beliau sudah menghabiskan pelajaran tingkat Madrasah Tsanawiyyah milik kakaknya. Beliau juga selalu membawa peralatan shalat, buku pelajaran, dan Juz ‘amma saat mengembala kambing. Ketika teman-temannya bermain, beliau lebih memilih membaca dan menghafalkan Juz ‘amma.

Bahkan saking gemarnya beliau terhadap membaca, setiap minggunya beliau membeli buku di Gramedia hampir 3-5 Juta untuk memenuhi hasrat membaca beliau.

4. DERMAWAN
Jiwa kepedulian sosial beliau sangatlah tinggi, beliau rajin bershodaqoh kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Hampir di setiap pengajian, beliau selalu membagikan sembako kepada jama’ah pengajian dan mengumrohkan beberapa orang setiap tahunnya.

Beliau mengibaratkan shodaqoh dengan kulit. Jika seseorang mempunyai pisang, maka jangan dimakan semua sampai kulitnya. Kulit buah sebaiknya diberikan kepada hewan yang membutuhkan, shodaqoh ibaratnya adalah membuang kulit dari buah yang di makan. Jika kulit dan buah dimakan semua dapat menimbulkan penyakit.

5. PRODUKTIF
Beliau adalah sosok ulama’ muda yang tak pernah lelah dalam berkarya. Waktunya dialokasikan untuk menulis,menulis, dan menulis. Hingga saat ini, karya beliau berjumlah ± 200 kitab. Diantaranya membahas tentang akhlak, fadhilah ilmu, fiqih, dan sejarah. Dan uniknya, beliau selalu membahas tentang permasalahan sosial yang tengah beredar di masyarakat.

6. AHLI TIRAKAT
Ketika beliau menempuh pembelajaran di Pondok Pesantren Maslakul Huda, setiap jam 3 malam beliau selalu menyapu dapur yang kotor saat tidak ada orang yang mengetahui. Sehingga, pada pagi harinya para Santri merasa nyaman karena dapurnya bersih. Dan ketika di Pondok Pesantren Al-Manshur, Abah Taufiq setiap malam membersihkan toilet dengan niatan untuk membersihkan hati dan mencari ridho Allah dengan berkah kyai dan Santri. Pada siang hari di Popongan, KH. Taufiqul Hakim menjadi kuli bangunan tanpa upah di pondok Pesantren. Sedangkan di malam harinya digunakan untuk membaca wirid.

Rahasia-rahasia sukses ini sungguh sangat mulia yang tidak mudah dilakukan. Hal ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya rendah dihadapan Allah, banyak melakukan dosa dan kesalahan, membulatkan tekad untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengabdi kepada kiai dan santri supaya mendapatkan ilmu dunia dan akhirat. Sebuah teladan agung.