Berita Pesantren

Lahirnya Mausu’ati Metode Lanjutan Amtsilati ; Merekontekstualisasi Peradaban Nahwu

Metode Amtsilati merupakan penemuan Kiai Taufiqul Hakim untuk membaca kitab kuning dalam waktu singkat, yakni tiga sampai enam bulan. Tak hanya mengedepankan teori nahwu dan shorof. Amtsilati, di tangan Kiai Taufiq juga dipraktekkan sebagaimana guru mengarahkan murid atas dasar dan kaidah. Dan sebagai buktinya, anak-anak seumuran SMP-SMA sudah mampu membaca kita kuning. Namun, sekarang Amtsilati ternyata bisa dipelajari oleh anak usia Ibtidaiyyah atau MI. Alfiyyah yang awalnya merupakan makanan anak aliyah, di Amtsilati menjadi makanan anak-anak ibtida’iyah. Oleh karena itu, dalam waktu yang cepat, banyak anak yang memilih untuk mondok di PP. Darul Falah yang saat itu baru terdaftar secara resmi oleh notaris H. Zainurrahman, S.H. untuk mempelajari ilmu nahwu lewat Amtsilati.
        Tahun 2004 saat musim haji, Kiai Taufiq bertemu seorang muqimin di Mekkah asal Madura bernama H. Hafiduddin, ia merupakan wali santri yang putranya mondok di Darul Falah. H. Hafiduddin bertanya pada Kiai Taufiq tentang program “Apa program lanjutan setelah murid dinyatakan lulus Amtsilati?” Pertanyaan tersebut belum mampu dijawab Kiai Taufiq mengingat edisi revisi kitab Amtsilati masih belum selesai sehingga muncul gagasan baru setelah seminggu berikutnya yang juga merupakan hasil mujahadah Kiai Taufiq sebagaimana proses menulis Amtsilati. Pada akhirnya konsep “Pasca Amtsilati” dirancang menggunakan waktu tempuh dua setengah tahun, dengan pembentukan sejumlah fan di antaranya: fiqih, tasawwuf, hadits, tafsir dan komunikasi.
        Saat ini, tahapan pembelajaran pasca Amtsilati dibagi menjadi dua arah. Yang pertama, bagi santri yang telah dinyatakan lulus dari Amtsilati Asrama An-Naim, mereka akan belajar tentang adab dan tata krama di Asrama Tasawwuf. Pada saat awal terciptanya program Pasca Amtsilati, pembelajaran seputar tasawwuf dan akhlaq diajarkan lewat Fan Tasawwuf. Namun pada tahun 2015, Fan Tasawwuf diubah menjadi asrama tersendiri dan diletakkan setelah lulus jenjang Amtsilati. Hal ini dilakukan agar santri dibekali pembelajaran akhlaq lebih awal.
        Setelah lulus dari Asrama Tasawwuf, para santri akan mempelajari dan mendalami Ilmu Bahasa Arab dan Inggris di Asrama Darussalam. Sebagaimana Fan Tasawwuf yang berubah menjadi asrama khusus, Asrama Darussalam juga berawal dari Fan Komunikasi yang telah menjadi bagian dari jenjang pendidikan dalam program Pasca Amtsilati. Pada November 2007, fan komunikasi oleh Kiai Taufiq dijadikan sebuah asrama khusus. Tujuannya untuk memaksimalkan kemampuan berbahasa murid. Sa’dulloh dan Mukhlis Zainulloh diminta Kiai Taufiq untuk membentuk asrama komunikasi yang kemudian diberi nama “Markazullughoh” (sekarang Darussalam) sekaligus penambahan pelajaran bahasa Inggris untuk diterapkan sebagai penyempurna.
        Dengan bekal pembelajaran Amtsilati, akhlaq dan juga bahasa, santri akan melanjutkan pembelajaran ke Asrama Illiyyin. Disana akan diberi pelajaran Fiqih, Tauhid, Hadist dan Tafsir. Mereka juga akan melalui 6 fan, diantaranya Thoharoh, Ubudiyyah, Muamalah, Munakahat, Jinayat, Tafsir sebelum akhirnya masuk ke Fan dakwah dan kemudian diwisuda.
        Untuk yang kedua, santri yang lulus dari Amtsilati Asrama Al-Ma’wa akan melanjutkan Pendidikan di Asrama Takhossus yang notabenenya menghabiskan waktu lebih pendek dibanding Asrama Illiyyin. Takhossus diciptakan atas prakasa Ust. Arinal Haq Zakiyyat yang prihatin melihat banyak santri yang boyong begitu lulus Aliyah, padahal mereka belum menyelesaikan pelajaran sampai tuntas. Di Asrama Takhossus, kurikulum dan waktu pembelajaran disesuaikan untuk santri yang sudah Aliyah dan biasanya akan boyong begitu lulus sekolah. Sehingga diharapkan santri bisa merampungkan pembelajaran sekolah maupun pesantren.
        Mausu’ati juga merupakan salah satu metode Pasca Amtsilati. Kitab ini mengupas seputar Ilmu Kaidah Bahasa Arab. Didalamnya juga terdapat keterangan dan pendalaman materi dari kitab Amtsilati. Contoh kecilnya, jika di Amtsilati pengamalan huruf Jer hanya akan disebut secara umum. Sedangkan di Kitab Mausu’ati pengamalan Huruf Jer dikupas secara lengkap mulai dari segi makna maupun lafadz. Penulisan Kitab Mausu’ati ini dilakukan oleh K.H Taufiqul Hakim saat sedang melaksanakan Ibadah Umroh ke Tanah Suci.

        Untuk memperkenalkan kitab ini, K.H. Taufiqul Hakim menggelar acara Bedah Kitab Mausu’ati di Gedung Al-Mubarok yang berlangsung pada Kamis, 21 Desember 2023. Acara ini dihadiri oleh para alumni Perguruan Islam Al-Hikmah, Himpunan Da’iyah Muslimat Jepara, Jam’iyah Noto Ati serta para alumni dari banyak pondok pesantren seperti alumni Ponpes Permata, Ponpes Balekambang dan Ponpes Wahid Hasyim. Hadir pula sejumlah tokoh seperti Ketua MWC Margoyoso, Romo Kiai Syukron, K.H Moh Ihsan, Kiai Sidqon Famulaqih dan K.H Samu’in dari Kajen, Pati. Dalam sambutannya, K.H Taufiqul Hakim menyampaikan terima kasih atas semua guru-guru beliau terdahulu seperti K.H. M. Sahal Mahfudz dan K.H. Salman Dahlawi (Allahu Yarham). K.H. Taufiqul Hakim juga menyampaikan bahwa “Kebodohan yang paling buruk adalah kebodohan tentang hukum-hukum al-qur’an dan tentang agama Allah. Anak harus tahu siapa tuhannya, harus tahu hukum-hukum al-qur’an, tahu apa yang sudah ditetapkan oleh Allah. Maka, jika tidak tahu hal-hal semacam itu, ia termasuk yang paling buruk bodohnya”. Saya memohon kepada Allah dan mengharapkan kitab Mausu’ati ini agar kita ini sebagai mahkluk bisa melek al-qur’an, dimulai dari huruf jer ini bisa selesai sampai jilid 7.”
        K.H Samu’in turut menyampaikan kesannya terhadap K.H Taufiqul Hakim. “Kiai Taufiq, sumber inspirasi dan sumber mimpi yang larinya melompat dan meloncat sehingga tak terkejar oleh jangkauan pikiran para peserta, pemirsa dan pemerhati. Yai Taufik semoga sehat, terus dalam ridha Allah sehingga melahirkan karya-karya lain yang indah dan barokah” ucap beliau. 
Sebagai mana telah disampaikan oleh K.H Taufiqul Hakim, Kitab Mausu’ati ini direncanakan akan terbit hingga 7 jilid. Diharapkan dari terciptanya Kitab Mausu’ati ini, para santri yang telah mempelajari dasar-dasar Ilmu Nahwu bisa lebih mengembangkan diri lagi sehingga bisa belajar ke kitab yang lebih tinggi.