Seluruh pengurus Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati mengikuti kegiatan pengarahan intensif mengenai pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan pesantren sekaligus peneguhan komitmen dalam pencanangan Pesantren Ramah Anak.
Kegiatan yang berlangsung dengan khidmat tersebut digelar di Gedung Paseban Atas pada pukul 13.00 WIB. Pengarahan ini bertujuan membekali para pengurus, yang mayoritas masih berusia muda, agar mampu menghadapi berbagai dinamika dalam pembinaan santri serta membangun komunikasi yang baik dengan wali santri.
Acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ketua Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, Ustadz Syifa Ahmad. Dalam sambutannya, beliau menegaskan komitmen baru pesantren untuk menolak segala bentuk kekerasan, baik kekerasan seksual, fisik, verbal, maupun nonverbal.
Beliau juga menggarisbawahi bahwa segala bentuk tindakan tersebut tidak pantas dilakukan oleh jajaran kepengurusan, terlebih oleh pengurus Amtsilati yang mengemban amanah sebagai pembina santri. Menurutnya, kemampuan menahan hawa nafsu dan mengendalikan emosi merupakan salah satu indikator kedewasaan seorang pengurus dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Mulai sekarang kita cap pondok pesantren kita menjadi pondok pesantren yang ramah anak dan ramah santri,” ujar Ustadz Syifa dalam sambutannya.
Sejalan dengan hal tersebut, Ustadz Labib selaku perwakilan Komite Keamanan Pengurus turut memberikan arahan kepada seluruh peserta. Beliau mengingatkan bahwa seorang pengurus hendaknya senantiasa bersabar dan melapangkan hati dalam mendidik para santri, karena pada hakikatnya santri merupakan tamu-tamu Allah Swt., sedangkan pengurus adalah pihak yang diberi amanah untuk melayani dan membimbing mereka.
Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka dan transparan dengan wali santri, terutama ketika terjadi permasalahan yang melibatkan anak didik.
“Tempat ini milik Abah Yai Taufiqul Hakim. Maka sangat tidak pantas apabila seorang pegawai justru mengotori tempat itu. Ingat, santri adalah amanah kita, pemilik pondok adalah Abah, dan kita adalah tangan kanan beliau. Pondok kita sekarang sudah tidak lagi menggunakan penertiban dengan rotan. Jika ada kendala, jangan sampai wali santri mengetahui lebih dahulu dari santri, tetapi sampaikan langsung dari kita,” tegasnya.

Selain pengarahan dari para asatidz, kegiatan ini juga menghadirkan materi edukatif yang disampaikan oleh Bapak Aipda Subandi, Bhabinkamtibmas Polsek Bangsri, Kabupaten Jepara, mengenai peta kerawanan perundungan di lingkungan pesantren. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa korban perundungan umumnya berasal dari kalangan santri yang lebih muda, memiliki keterbatasan fisik, tidak mampu melakukan perlawanan, atau memiliki tingkat asertivitas yang rendah.
Beliau juga mengingatkan bahwa perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi dapat berupa intimidasi verbal, pengucilan sosial, hingga tindakan lain yang berdampak pada kondisi psikologis korban. Oleh karena itu, seluruh pengurus diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mencegah, mengenali, dan menangani setiap indikasi perundungan sejak dini.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa bersama. Melalui pengarahan intensif ini, Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri. Diharapkan seluruh pengurus mampu bertindak cepat, tanggap, dan bijaksana dalam mendeteksi maupun menangani potensi perundungan di setiap barak santri, sehingga tercipta budaya pesantren yang penuh kasih sayang, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran Islam.
