Jangan Membangkang, Taatlah dengan Sabar

Bukan termasuk sifat seorang mukmin sejati apabila seseorang gemar membangkang, mencela, banyak melaknat, serta berkata-kata keji dan kotor. Orang yang suka membangkang dan tidak mau menaati pemimpinnya dikhawatirkan kelak menghadap Allah tanpa memiliki hujah.

Setiap orang memiliki pemimpin sesuai dengan kedudukannya. Seorang anak memiliki ibu dan bapak sebagai pemimpinnya, seorang istri memiliki suami sebagai pemimpinnya, sedangkan rakyat memiliki pemimpin, mulai dari RT, RW, bupati, gubernur, hingga presiden. Begitu pula di lingkungan pesantren, santri memiliki pemimpin, yaitu pengurus, asatidz dan asatidzah, serta pengasuh pesantren.

Termasuk bagian dari sikap seorang muslim yang baik adalah patuh dan taat kepada pemimpinnya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Barang siapa yang menaati pemimpin, maka sungguh ia telah menaatiku. Dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin, maka sungguh ia telah mendurhakaiku.”

Oleh karena itu, wahai anak-anakku, ketika di pesantren terdapat peraturan atau kebijakan yang telah ditetapkan, baik yang sesuai dengan keinginan maupun tidak, selama tidak bertentangan dengan syariat, hendaknya tetap ditaati dengan penuh kesabaran.