Ziaroh & Sowan Saung Santri Miftahul Falah dan FBA Center Pekalongan ke Darul Falah Amtsilati

Ahad, 27 September 2026, Gedung Al-Mubarok menjadi tempat berlangsungnya kunjungan Saung Santri Miftahul Falah dan FBA Center Pekalongan. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 110 peserta, terdiri atas 60 peserta dari Saung Santri Miftahul Falah dan 50 peserta dari FBA Center Pekalongan.

Kunjungan yang dipimpin oleh Ust. Muhaimin dan Kyai M. Imam Muhajir, S.Ag. ini bertujuan untuk sowan dan tabarrukan, melakukan studi banding pengembangan Amtsilati, sekaligus mempererat silaturahmi dengan alumni dan pengajar Amtsilati di wilayah Pekalongan. Para peserta juga hadir untuk mengharap keberkahan ilmu dari Romo KH. Taufiqul Hakim.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan Tim Rebana As-Salam, kemudian dilanjutkan dengan acara yang dipandu oleh Alwan selaku MC. Kegiatan berikutnya meliputi demonstrasi, bedah kitab yang disampaikan oleh Ust. Deden, serta sambutan dari perwakilan Pondok Pekalongan, Korwil Jateng 3, dan Saung Santri Tegal.

Dalam acara inti, Abah Yai menyampaikan bahwa para peserta yang hadir merupakan orang-orang yang sedang berjuang di jalan agama Allah. “Kalian adalah orang yang sedang memperjuangkan agama Allah. Kalian mengajarkan manusia. Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa ikan di laut dan semut di lubangnya memohonkan ampun untuk orang yang mengajarkan kebaikan.”

Abah juga memberikan apresiasi kepada panitia yang terus menjaga semangat dalam menyambut para tamu. Menurut beliau, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari semangat wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr, yakni saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa Allah memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Karena itu, perjuangan dalam mengajarkan ilmu dan kebaikan hendaknya dijalani dengan penuh kesungguhan dan kesabaran.

Lima Kebiasaan untuk Membangun Kesuksesan

Dalam kesempatan tersebut, Abah juga membagikan sejumlah kebiasaan yang selama ini beliau pegang dalam menjalani kehidupan.

Pertama, memanfaatkan waktu sebelum Subuh.

Menurut Abah, satu jam sebelum Subuh sebaiknya tidak dihabiskan untuk tidur. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk belajar, berdoa, dan beribadah. Beliau menceritakan kebiasaannya mengisi waktu tersebut dengan berbagai salat sunnah, seperti tahajud, hajat, taubat, tasbih, mutlak, dan witir.

Abah juga mengingatkan bahwa doa merupakan ibadah. Jawaban Allah atas doa seorang hamba dapat diberikan dalam berbagai bentuk: dikabulkan segera, ditunda, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Kedua, membiasakan diri datang lebih awal.

Abah memberikan contoh sederhana. Jika memiliki acara pada pukul 11.00, beliau membiasakan diri sudah siap sejak pukul 10.00. Waktu yang tersedia sebelum acara dapat digunakan untuk berdzikir, membaca, belajar, atau melakukan aktivitas lain yang bermanfaat.

Ketiga, tidak hanya menunggu peluang, tetapi menciptakan peluang.

Waktu yang sering dianggap sepele, seperti ketika mengantre makan atau mandi, tetap dapat dimanfaatkan untuk membaca dan berdzikir. Abah juga mengingatkan agar seseorang tidak terlalu sibuk memikirkan komentar orang lain. Yang terpenting adalah terus belajar, berkarya, dan berani menciptakan kesempatan.

Keempat, tidak menunda pekerjaan.

Pekerjaan yang dapat diselesaikan hari ini tidak perlu ditunda hingga esok. Kebiasaan menunda hanya akan membuat pekerjaan semakin menumpuk. Karena itu, setiap kesempatan hendaknya dimanfaatkan untuk menyelesaikan apa yang memang dapat dikerjakan.

Kelima, memanfaatkan waktu sebelum tidur.

Sekitar setengah jam sebelum tidur dapat digunakan untuk belajar, berdoa, serta melakukan refleksi dan membayangkan cita-cita yang ingin dicapai. Dengan demikian, waktu sebelum tidur tidak berlalu begitu saja, tetapi menjadi bagian dari proses memperbaiki dan mengembangkan diri.

Hidup Harus Terus Berkembang

Abah juga mengingatkan bahwa waktu yang benar-benar dimiliki manusia adalah hari ini. Kemarin tidak dapat diulang, sedangkan masa depan belum tentu dapat ditemui. Karena itu, setiap hari hendaknya diisi dengan perkembangan dan peningkatan. “Hari ini saya harus menciptakan prestasi, harus berkarya. Setiap hari harus ada perkembangan, harus meningkat.”

Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap orang tidak menyia-nyiakan waktu yang sedang dimiliki. Setiap hari harus diupayakan menjadi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Jangan Membatasi Kekuasaan Allah

Dalam menyampaikan pentingnya doa dan ikhtiar, Abah juga menceritakan pengalaman pribadinya tentang keinginan memiliki mobil Kijang yang bagus. Keinginan tersebut terus beliau panjatkan kepada Allah hingga kemudian datang jalan yang tidak disangka-sangka. Dari pengalaman tersebut, Abah menyampaikan pesan: “Jangan membatasi kekuasaan Allah.”

Manusia memiliki keterbatasan, tetapi kekuasaan Allah tidak terbatas. Karena itu, cita-cita hendaknya disertai doa, ikhtiar, dan keyakinan kepada Allah. Jangan sampai keterbatasan diri membuat seseorang membatasi kemungkinan pertolongan dan kekuasaan Allah.

Mengatur Rezeki dengan Bijak

Dalam hal pengelolaan keuangan, Abah juga menyampaikan pola pembagian yang dapat dijadikan bahan pembelajaran, yaitu:

* 10% untuk sedekah

* 10% untuk tabungan

* 20% untuk membayar utang

* 60% untuk kebutuhan sehari-hari

Sedekah, menurut Abah, bukan hanya tentang memberikan sebagian harta kepada orang lain, tetapi juga melatih kepedulian dan membangun pola pikir yang lebih luas dalam memandang rezeki. Sementara itu, tabungan menjadi bentuk persiapan untuk menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Adapun utang perlu diperhatikan dan diselesaikan secara bertahap agar tidak menjadi beban yang semakin besar. Abah juga memberikan pengingat sederhana: “Allah mencukupi kebutuhan hidup kita, tetapi Allah tidak mencukupi gaya hidup kita.”

Pesan tersebut mengajarkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Rezeki yang diberikan Allah perlu dikelola dengan bijaksana agar tidak habis untuk memenuhi gaya hidup yang terus berkembang.

Kunjungan Saung Santri Miftahul Falah dan FBA Center Pekalongan bukan sekadar kegiatan studi banding. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk sowan, tabarrukan, mempererat silaturahmi, berbagi pengalaman, serta mengambil pelajaran dari perjalanan perjuangan dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Dari pertemuan tersebut, para peserta membawa pesan penting: terus belajar, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, jangan menunda kebaikan, berani menciptakan peluang, rajin berdoa dan berikhtiar, serta jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dalam meraih cita-cita.

Sebab menjadi pejuang agama bukan hanya tentang mengajarkan ilmu kepada orang lain, tetapi juga tentang terus memperbaiki diri, memanfaatkan waktu, berkarya, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.