Nama KH. Taufiqul Hakim tentu sudah sangat akrab di telinga kalangan pesantren. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara sekaligus muallif Metode Amtsilati, sebuah terobosan revolusioner dalam dunia pendidikan pesantren. Melalui metode ini, para santri dimudahkan dalam belajar membaca kitab kuning dengan lebih cepat, runtut, dan sistematis. Ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara bahkan sampai mancanegara telah merasakan manfaat nyata dari metode ini. Namun, di balik kiprah intelektualnya yang monumental, ada sisi personal KH. Taufiqul Hakim yang membuat banyak orang kagum sekaligus terharu: hobinya yang tidak biasa, yaitu gemar menghadiahkan umrah kepada orang lain.
Yai Taufiq, begitu sapaan akrabnya. Sejak dahulu identik dengan kedermawanan. Diantara kedermawanannya yang paling terlihat adalah ketika memberangkatkan orang ke Tanah Suci. Tidak hanya sekali dua kali, melainkan sudah ratusan kali. Yang beliau berangkatkan pun beragam: mulai dari santri yang berprestasi, para pengurus yang membantu mengelola pesantren, para koordinator wilayah Amtsilati yang tersebar di seluruh Nusantara, hingga kerabat dan masyarakat umum. Bahkan tak jarang, orang-orang yang sama sekali tidak menyangka sebelumnya, tiba-tiba ditakdirkan dan dipilih Allah melalui perantara tangan beliau untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Bagi Yai Taufiq, ini bukan soal banyaknya angka, melainkan soal keyakinan bahwa dengan memberi, Allah justru akan melipatgandakan rezeki dan membuka pintu keberkahan yang jauh lebih luas.
Padahal, jika kita melihat sejarahnya, perjalanan hidup Yai Taufiq bukan berasal dari keluarga kaya atau penuh fasilitas. Beliau justru tumbuh dalam lingkungan yang sangat sederhana, dengan segala keterbatasan yang menyertainya. Tidak ada bayangan kemewahan, bahkan bisa dibilang benar-benar “tidak punya apa-apa.” Dari pengalaman hidup yang keras itulah lahir kepekaan sosial yang kuat. Beliau merasakan betul bagaimana rasanya memiliki mimpi besar yang seakan mustahil diwujudkan karena terbentur kondisi ekonomi. Maka, ketika Allah kemudian menganugerahkan kelapangan rezeki, beliau tidak menumpuknya untuk diri sendiri. Ia justru memilih jalan berbagi, seolah ingin menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita mengoleksi, melainkan dari seberapa tulus kita menjadi perantara terwujudnya mimpi orang lain.
Tidak heran, dari kedermawanan Yai Taufiq lahir begitu banyak kisah inspiratif. Dulu, beliau rutin mengadakan undian umrah bagi siapa saja yang berbelanja di minimarket Amtsilati atau toko bangunan milik pesantren. Kala itu, pernah ketika ada santri Darul Falah Amtsilati yang berhasil menorehkan prestasi di ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional, beliau tidak hanya memberi ucapan selamat, tetapi juga menghadiahkan tiket umrah sebagai bentuk apresiasi. Dalam acara wisuda Amtsilati, beliau pernah mengadakan undian umrah untuk para santri yang diwisuda, menambah haru dan kebahagiaan di tengah suasana penuh syukur. Bahkan pada Juni 2025 lalu, saat Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati mengadakan Musabaqah Qira’atil Kutub menggunakan Metode Amtsilati se-Nusantara perdana, beliau kembali membuat banyak orang terkesima dengan memberikan hadiah umrah gratis bagi para pemenang MQK Amtsilati se-Nusantara ini. Yang lebih menyentuh, ada salah satu wali santri dari pemenang turut serta diumrohkan, sebuah momen yang membuat banyak mata berkaca-kaca.
Kalau kita mencoba berhitung secara sederhana, biaya satu paket umrah rata-rata berkisar 30 juta rupiah. Jika jumlah yang sudah beliau berangkatkan mencapai 100 orang saja, artinya dana yang telah dikeluarkan bisa tembus hingga 3 miliar rupiah. Itu pun baru perhitungan kasar. Sementara faktanya, jumlah orang yang diumrohkan oleh Yai Taufiq sudah mencapai ratusan. Nilai materi yang dikeluarkan sungguh tidak kecil. Namun, beliau tidak pernah memandangnya sebagai beban atau pengeluaran sia-sia. Justru yang beliau rasakan sebaliknya: setiap kali memberi, pintu-pintu rezeki baru selalu dibukakan oleh Allah.
Ada satu hal yang jarang diketahui orang. Setiap kali beliau memberangkatkan jamaah umrah, Yai Taufiq selalu menitipkan doa. Namun doa itu bukan untuk dirinya sendiri. Bukan pula doa agar dirinya mendapat kemuliaan atau dilapangkan urusan pribadinya. Beliau selalu menitipkan doa agar pesantren yang ia rintis bisa terus memberikan manfaat, agar Metode Amtsilati yang beliau tulis bisa tetap lestari lintas generasi, serta agar para santrinya tumbuh menjadi pribadi yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Doa beliau selalu berorientasi pada kemaslahatan umat, menegaskan bahwa misi hidupnya adalah kebermanfaatan, bukan kepentingan pribadi.
Apa yang dilakukan Yai Taufiq memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah Allah menambah seorang hamba yang suka memberi maaf kecuali dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim).
Dari ayat dan hadits ini jelas, prinsip yang dipegang Yai Taufiq bukan sekadar filosofi pribadi, melainkan keyakinan yang berakar pada ajaran Islam: semakin memberi, semakin Allah lipatgandakan keberkahan.
Yang menarik, Yai Taufiq sama sekali bukan seorang tour leader atau agen travel umrah. Beliau pun bukan tipe orang yang sibuk mengoleksi perjalanan umrah untuk dirinya sendiri. Justru sebaliknya, beliau lebih senang menghadiahkan kesempatan itu kepada orang lain.
Kerendahan hati ini membuat banyak orang segan dan kagum. Sebab, beliau tidak menimbun pengalaman spiritual hanya untuk diri sendiri, tetapi membaginya agar semakin banyak orang bisa merasakan nikmatnya beribadah di Tanah Haram.
Dari perjalanan hidup Yai Taufiq, kita belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kelapangan hati untuk berbagi. Beliau adalah contoh nyata bagaimana seseorang yang dulunya hidup dalam kesederhanaan bisa tumbuh menjadi pribadi yang dermawan, tanpa pernah merasa kehilangan sedikit pun. Justru karena pernah merasakan getirnya hidup, beliau menjelma menjadi sosok yang peka terhadap mimpi dan harapan orang lain.
Kisah Yai Taufiq bisa menjadi cermin inspiratif bagi kita semua. Bahwa hidup yang paling indah bukanlah dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri, melainkan dengan selalu memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain. Dari ratusan tiket umrah yang beliau hadiahkan, kita seakan diajak merenung: kebahagiaan sejati itu bukan pada apa yang kita genggam, melainkan pada senyum orang lain yang hadir karena kita diberi nikmat untuk dapat membantunya, serta doa tulus yang mereka panjatkan untuk kemaslahatan umat.
